RESPONS TIGA JENIS TANAMAN SAYURAN (FAMILI BRASSICACEAE) TERHADAP BERBAGAI FREKUENSI PENYEMPROTAN CENDAWAN Beauveria bassiana DALAM PENGENDALIAN HAMA SERANGGA PERUSAK DAUN
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sayur-sayuran
termasuk dalam daftar makanan yang harus dikonsumsi setiap hari seperti halnya
buah-buahan, sayuran juga dapat menghasilkan serat yang sangat dibutuhkan untuk
memperlancar proses pencernaan dalam tubuh. Serat yang terdapat di dalam sayuran juga
berfungsi untuk mengikat kolesterol jahat di dalam saluran pencernaan sehingga
kolesterol tersebut tidak dapat diserap kembali oleh tubuh, selain itu sayur
juga mengandung banyak vitamin penting untuk pembentukan jaringan tubuh dan
memperkuat fungsi organ.
Charles
Klien seorang ahli gizi dari New York menyebutkan bahwa manfaat sayuran dan
buah terutama yang dibuat menjadi jus dapat menghilangkan lemak di dalam tubuh,
menghilangkan kolesterol jahat, dan menurunkan tekanan darah tinggi. Banyak
sekali jenis sayuran yang dapat dipilih untuk dikonsumsi baik untuk dimasak dan
dimakan sebagai lalap. Dibuat seperti
apa pun kita masih tetap bisa merasakan manfaat sayuran bagi kesehatan kita, akan
tetapi tanpa kita sadari sayuran dapat mengandung zat berbahaya karena
penggunaan bahan pestisida sintetis berlebihan.
Pestisida
yang merupakan bahan berbahaya ini sebenarnya banyak dimanfaatkan para petani
untuk menjaga kualitas sayurannya dari serangan hama dan penyakit tanaman, bahan
makanan yang kita makan terutama sayuran segar mengandung residu pestisida walau
tidak secara langsung bahaya yang ditimbulkannya berdampak jangka panjang
seperti kanker, tumor, penyakit kronis dan berperan aktif dalam merusak ekologi
lingkungan. The National Academy of
Sciences (NAS) tahun 1987, mengeluarkan laporan tentang pestisida dalam makanan,
berdasarkan data dalam penelitian resiko potensial yang diberikan oleh
pestisida penyebab kanker dalam makanan lebih dari sejuta kasus kanker tambahan
dalam masyarakat Amerika selama hidup karena sekitar 30 macam pestisida karsinogen
terdapat dalam makanan kita (Frank C. Lu, 1995).
Di Indonesia petani yang banyak menggunakan
berbagai jenis pestisida yaitu petani sayuran, tanaman pangan, tanaman hortikultura dan buah-buahan. Khususnya petani sayuran sangat sulit
melepaskan ketergantungan dari penggunaan pestisida, karena budidaya sayuran
tanpa pestisida dianggap tidak aman dan sering kali pestisida dijadikan sebagai
salah satu cara keberhasilan dalam usaha tani.
Tiga jenis tanaman sayuran yang banyak dikembangkan di Indonesia
antaranya sayuran caisin, bunga kol dan petsai ini sering terserang hama Spodophtera litura, Spodoptera exigu,dan Plutella xylostella (Maria
Goretti Catur, 2009).
Serangan ulat sayuran merupakan salah satu faktor pembatas
dalam pengembangan usaha, hama ini dapat menyerang tanaman sejak awal pertumbuhan dan
mengakibatkan kehilangan hasil yang tidak sedikit dikarenakan larva menimbulkan
kerusakan dengan cara memakan daun tanaman.
Petani saat ini dalam mengendalikan
hama masih menggunakan insektisida kimia, aplikasi penggunaan insektisida kimia
dilakukan dalam selang waktu 2 sampai 3 hari sekali dan bahan kimia yang
disemprotkan merupakan campuran dari berbagai jenis insektisida (Utami 1997). Salah satu cara pengendalian hama yang
ramah lingkungan adalah dengan menggunakan musuh alami serangga hama baik
berupa predator, parasitoid maupun patogen. Mikroba sebagai patogen serangga terhadap hama telah dikenal
sejak lama, namun manfaat dari mikroorganisme yang bersifat patogen terhadap
serangga hama belum banyak diketahui oleh petani. Salah satu patogen yang telah diidentifikasi
dapat mengendalikan serangga adalah cendawan Beauveria bassiana. Cendawan tersebut dapat menginfeksi serangga
hama ordo Lepidoptera, Coleoptera, Diptera dan Hymenoptera (Moschetti,R.
2005).
Cendawan ini di beberapa negara telah
digunakan sebagai agen hayati pengendalian sejumlah serangga hama mulai dari
tanaman pangan, hias, buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, hortikultura,
perkebunan, kehutanan hingga tanaman
gurun pasir , Beauvaria bassiana merupakan cendawan entomopatogen yaitu cendawan yang dapat menimbulkan
penyakit pada serangga. Menurut klasifikasinya, Beauveria bassiana termasuk klas Hypomycetes, ordo Hypocreales
dari family Clavicipitaceae. Cendawan entomopatogen penyebab penyakit
pada serangga ini pertama kali ditemukan oleh
Agostino Bassi di Beauce (Perancis), yang kemudian mengujinya pada
ulat sutera (Bombyx mori). Penelitian
tersebut bukan saja sebagai penemuan penyakit pertama pada serangga tetapi juga yang pertama untuk
binatang. Salah satu cara
pengendalian hama yaitu dengan menggunakan cendawan beauveria bassiana yang dapat menginfeksi hama serangga pada ketiga
jenis tanaman sayuran tersebut.
1.2. Identifikasi Masalah
Penelitian
Berdasarkan latar belakang maka
dapat diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah
terjadi interaksi dengan menggunakan beberapa frekuensi penyemprotan cendawan
entomopatogen B. bassiana akan
menimbulkan efek yang berbeda terhadap
intensitas serangan hama pada tiga tanaman sayuran caisin,
bunga kol dan petsai?
2. Frekuensi
penyemprotan cendawan entomopatogen B.
bassiana manakah yang paling efektif terhadap intensitas serangan hama
pada
tiga tanaman sayuran caisin, bunga kol dan petsai?
1.3. Maksud dan Tujuan
1. Maksud dari penelitian ini
adalah ingin mempelajari, mengetahui pengaruh dan epikasi cendawan entomopatogen B. bassiana terhadap pengendalian hama pada
tiga tanaman sayuran caisin, bunga kol dan petsai.
2. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui frekuensi cendawan entomopatogen B. bassiana yang berpengaruh paling baik terhadap hama sayuran caisin,
bunga kol dan petsai.
1.4.
Kegunaan Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan memperoleh informasi berguna dalam usaha
mengendalikan hama sayuran caisin, bunga kol dan petsai yang ramah lingkungan,
di antaranya :
1.
Sebagai salah satu bahan pertimbangan
petani khususnya sayuran agar lebih bijaksana dalam penggunaan pestisida
sintetis, karena dapat mencemari lingkungan yang ditimbulkan oleh pestisida
kimia tersebut.
2.
Secara keilmuan dapat mengungkapkan
lebih jelas respons cendawan Beauveria
bassiana berbagai frekuensi terhadap beberapa hama sayuran caisin, bunga
kol dan petsai.
3.
Secara praktis dapat memberikan bahan
informasi bagi petani cara pengendalian hama yang ramah lingkungan.
1.5. Kerangka Pemikiran
Hama adalah organisme yang
merupakan salah satu faktor kendala produksi yang penting dalam usaha tani.
Diketahui terdapat banyak sekali jenis hama yang dikenal mengganggu, merusak,
dan menyerang tanaman yang menyebabkan kerusakan mulai dari tingkat ringan
hingga berat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang pesat membuat masyarakat untuk lebih membuka diri
dalam menerima perubahan-perubahan yang terjadi akibat kemajuan dan
perkembangan tersebut. Penerapan
teknologi pertanian yang berwawasan lingkungan dalam pelaksanaan program
pengendalian hama terpadu (Integrated Pest Management) merupakan
langkah yang sangat strategis karena aman dikonsumsi, menjaga kelestarian
lingkungan, serta pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan. Salah
satu komponen pengendalian hama terpadu (PHT) yang sesuai untuk menunjang pertanian berkelanjutan
adalah pembangunan pertanian secara hayati karena pengendalian ini lebih
selektif dan lebih berwawasan lingkungan.
Pengendalian Organisme
Pengganggu Tanaman (OPT) dengan pestisida yang tidak bijaksana menimbulkan
dampak negatif, seperti timbulnya hama yang menjadi resisten, terjadi
resugensi, terbunuhnya parasitoid atau serangga bukan sasaran serta terjadi
pencemaran lingkungan (Untung, 2006). Oleh karena itu perlu dicari pengendalian
serangga hama yang aman baik bagi lingkungan, hewan serta manusia sebagai
konsumen. Pengendalian hayati dengan
menggunakan entomopatogen merupakan salah satu konsep Pengendalian Hama
Terpadu. Pengendalian hayati merupakan pengendalian yang cukup efektif terhadap
OPT, selain itu juga tidak menimbulkan efek samping yang merugikan seperti
terbunuhnya organism non sasaran
(Untung, 2006).
Prospek
keanekaragaman dari mikrooragnisme yang antagonistik dan kekayaan sumberdaya
alam di Indonesia sebenarnya menjanjikan peluang yang cukup besar untuk
dimanfaatkan dalam pengendalian hayati hama tanaman.
Berdasarkan hasil penelitian Beuveria bassiana di Indonesia telah diuji terhadap beberapa
jenis serangga seperti Hyphotenemus
hampei (Coleoptera), ulat pada kelapa sawit, dan Zeuzera ciffeae (Lepidoptera) pada tanaman kakao (Sudarmadji, 2006).
Menurut laporan Widayat & Dini (1993), penyemprotan B. bassiana pada kerapatan spora 10² spora/ml air, 104 spora/ml
air, 106 spora/ml air dan 108 spora/ml terhadap ulat
jengkal (Ectropis bhurmitra)
menyebabkan mortalitas berturut-turut 35%, 47,5%, 65% dan 95% pada hari ke 12
setelah aplikasi.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui frekuensi penyemprotan
cendawan entomopatogen B. bassiana
yang tepat dalam pengendalian hama pada tanaman sayuran sebagai salah satu
alternatif pengendalian hayati maka diperlukan pengujian.
1.6.
Hipotesis
Berdasarkan
identifikasi masalah dan kerangka pemikiran, maka dapat ditentukan hipotesis
sebagai berikut :
1.
Terjadi
interaksi antara frekuensi penyemprotan cendawan entomopatogen Beauveria bassiana dalam pengendalian
haman tanaman sayuran caisin, bunga kol, dan petsai.
2.
Salah
satu frekuensi penyemprotan cendawan entomopatogen B. bassiana yang paling efektif mengendalikan beberapa hama sayuran
caisin, bunga kol, dan petsai.
Komentar